Ringkasan Materi Kultum dan Nasehat

Belajar Agama Islam Dengan Mudah Karena Islam itu Mudah

Beda Hukum Karena Media

Mengapa kasus bibit dan Chandra bisa sangat fenomenal. Lebih dari satu juta pendukung di facebook bersimpati mendukungnya. Mengangkat mereka sebagai pahlawan dan meminta mereka segera dibebaskan dan kasusnya ditutup. Sedangkan efek buruknya, Polri dan Kejaksaan mendapatkan cemoohan dan citra antagonis yang sangat kental. Bahkan beberapa suara tokoh negeri ini malah menakut-nakuti adanya potensi people power? Apakah ancaman itu benar ada?

Salah satu alasannya kenapa kasus ini menjadi sangat menarik adalah kuatnya opini media bahwa kedua orang itu telah terzalimi. Media santer memberikan pembelaan baik secara terang-terangan atau hanya sekedar kiasan. Posisi mereka sebagai pendekar pembasmi korupsi menambah bobot alasan kenapa keduanya menjadi sangat perlu untuk dibela rakyat. Jelaslah, kenapa kemudian rakyat berpihak pada dua tokoh ini. Pertama, karena mereka orang yang dianggap berjasa membela kepentingan rakyat, yang kedua karena mereka dicitrakan sebagai orang yang lemah dan dizalimi.

Sekarang saya ingin membandingkan hal ini dengan kasus terorisme. Mereka yang dituduh teroris selama ini memang niat awalnya ingin membela kaum muslimin. Namun, media tidak berpihak pada mereka. Sehingga pembunuhan terhadap mereka di penyergapan-penyergapan yang lalu seolah dilegalkan begitu saja. Meski tanpa peradilan, tanpa ada kesempatan membela diri dan menyangkal tuduhan-tuduhan. Mereka tidak memiliki kans (peluang) untuk menjelaskan kepada media. Apalagi jumpa pers, sama sekali tidak bisa. Selain itu pula, mereka tidak punya pengacara yang lihai membela mereka. Sehingga meski dizalimi sampai dibunuh, simpati mayoritas rakyat tidak terdengar. Bahkan jasad mereka ditolak karena dosa yang masih dalam status tuduhan.

Kalaulah benar kasus Bibit dan Chandra ini direkayasa para pejabat Polri dan Kejaksaan, maka bukankah tidak mungkin untuk kasus lebih kecil semacam terorisme bisa dilakukan strategi yang sama. Lakon bisa dicari, skenario bisa ditulis, hanya tinggal siapa yang memainkan apa. Dan di akhir episode siapakah yang akan menjadi pihak protagonis dan antagonis. Tapi sayang, hingga kini tak ada orang pandai yang mempertanyakan penembakan brutal terhadap kaum muslimin yang disangka teroris itu. Suaranya terdengar saja tidak. Yang lebih sedih lagi, citra itu mereka bawa sampai mati, bahkan tersemat di keluarga dan anak cucunya nanti.

Meski mereka pendekar pembasmi musuh Islam, tetapi orang Islam tidak merasa terbela kepentingannya. Meski mereka terzalimi sedemikian kasar, tetapi publik tidak merasa simpati karena citra mereka sudah sedemikian jahat. Baik karena ketidakmampuan memoles citra, atau karena media yang telah memosisikan mereka sebagai penjahat.

Keadilan memang harus dicari. Tapi kalau di dunia tidak ada keadilan yang memuaskan, maka di akhirat kelak segalanya akan ditunaikan. Hak-hak orang yang terzalimi, dan siksa bagi mereka yang telah menzalimi. Allahua’lam.

Filed under: Ilmu Cerdas, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: